Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit & Kisah Foto Studio Keluarga

Posted on 09/06/2017 By

[ad_1]

Apakah anda memiliki pengalaman heboh saat hendak melakukan foto studio bersama keluarga? Keluarga ini terdiri atas orang dewasa, remaja, dan bocah-bocah berusia antara 2 hingga 6 tahun. Well, kala Lebaran hari kedua bulan lalu saya mengalaminya. Ini adalah foto studio keluarga pertama yang saya lakukan dan percayalah ternyata memang sangat tidak mudah mengatur 14 orang yang berbeda usia dan jenis kelamin untuk duduk atau berdiri tenang mengikuti arahan fotografer. Semua memiliki keinginan dan kemauan sendiri, dan ketika rasa bad mood menyerang sangat impossible mengatur anak-anak untuk tersenyum ceria didepan kamera. 


Persiapan awal hingga akhirnya peserta bisa duduk manis di dalam studio foto sebenarnya dimulai sejak 1 minggu sebelum Lebaran. Kala di bulan puasa, saya, adik, dan Ibu sudah hunting baju Lebaran di Thamrin City. Pusat perbelanjaan baju muslimnya selalu menjadi andalan kami kala hendak mencari baju Lebaran dengan harga miring namun dengan tampilan yang cukup oke. Kakak saya, telah menetapkan tema warna baju Lebaran kali ini adalah pink. Warna yang tidak saya sukai dan selalu dihindari kala memilih baju atau perlengkapan fashion lainnya. Alasan warna pink terpilih karena, “Mama kalau pakai baju pink terlihat muda banget dan cantik,” tulis kakak saya di WA. Terus terang, saya dan Wiwin, adik saya, penyuka berat baju hitam karena terlihat melangsingkan, namun karena ultimatum sudah dikumandangkan maka kami pun harus mulai berburu baju Lebaran dengan warna pinky. 😫😭

Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit
Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit

Mencari pakaian di mall sebesar Thamrin City memang cukup memusingkan, begitu banyaknya penjual dengan aneka model baju muslim,  dan karena momennya mendekati Lebaran maka pengunjung jauh lebih ramai berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa. Hal memusingkan lainnya adalah body extra large yang kami miliki membuat baju apapun terkesan jelek ketika tergantung di badan, walau puasa sudah dijalani selama 3 minggu tetap saja jarum timbangan ogah bergeser ke kiri. Di saat-saat seperti itulah saya selalu merasa sedih, dan mulai berkhayal andai memiliki body langsing dan tinggi. Khayalan tersebut sudah saya ciptakan sejak puluhan tahun yang lalu dan tidak pernah diwujudkan menjadi kenyataan. 

Ketika rasa putus asa mulai melanda hendak memutuskan pakaian seperti apa yang akan dibeli, kami menemukan sebuah toko baju impian. Rata-rata koleksinya berukuran lebih dari large, dijahit sendiri alias bukan buatan pabrik yang diproduksi masal sehingga model dan warnanya bervariasi, banyak memiliki koleksi baju berwarna pink atau warna menjurus pink seperti yang kami perlukan, dan tentu saja harganya cukup terjangkau. Dengan model, payet, brokat dan bordir seperti itu kami yakin baju-baju tersebut akan dibandrol dengan harga sangat mahal di mall lainnya. Beberapa buah baju langsung kami borong untuk sekeluarga, dan saat itu saya merasa beban sedikit terlepas dari pundak. Swear, saya selalu merasa hunting pakaian untuk satu acara resmi merupakan beban yang berat. 😁

Dalam perjalanan menuju ke pintu keluar, Ibu saya yang sejak lama bermimpi memiliki baju kaftan mencetuskan keinginannya. Kami lantas berputar kembali dan menemukan sebuah toko yang menjual baju kaftan dan sangat ramai oleh pembeli. Era kaftan sebenarnya sudah lama lewat, namun hingga saat ini saya tidak pernah berminat untuk memilikinya. Potongannya yang lurus, lebar, dan tanpa model akan membuat saya tampak seperti sekarung singkong Mukibat. Beberapa kaftan kemudian dibeli untuk Ibu dan istri Mas Dul, supir adik saya yang juga memesan baju tersebut. Kami pulang ke rumah di pukul dua belas siang dengan hati riang. Mission accomplished! Setiba di rumah, baju-baju dibongkar dan mulailah kami melakukan fashion show amatiran di kamar tamu di rumah Wiwin di Mampang. Tak diduga ternyata kaftan keunguan yang dibeli oleh Ibu terlihat sangat cantik kala dipakai adik saya. Rasa greedy dan iri melanda untuk bisa memilikinya juga. Jadi, di pukul dua siang, saya berdua Wiwin kembali lagi ke Thamrin City untuk membelinya. Kali ini alasannya, “Kita nanti fotonya dua sesi dengan pakaian berbeda, kostum pink dan kaftan!” Oke deh kakak. 😓  

Kaftan
adalah jenis pakaian dengan warna-warni menyala dan memang itu menjadi
ciri khasnya yang unik. Masalahnya, saya dan Wiwin selalu beranggapan
warna hitam memberikan kesan lebih slim, jadi kami memutuskan
bersama-sama mengenakan kaftan berwarna hitam. Sementara kakak saya
melalui WA memesan kaftan berwarna biru. Hari kedua Lebaran sejak pagi
kami sudah heboh mendandani diri demi foto studio keluarga yang pertama.
Berhubung paket foto studio plus rias mahal biayanya, maka kami
putuskan merias wajah masing-masing. Adik saya, Wiwin, bahkan telah
menyediakan satu pack bulu mata palsu yang terus terang belum pernah kami
coba pergunakan sendiri. Di pukul sebelas siang kami sekeluarga
berbondong-bondong menuju ke sebuah studio foto di Pondok Indah Mall,
pakaian dan perlengkapan dimasukkan ke dalam sebuah koper kecil. 

Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit

Ternyata studio foto tersebut tidak terlalu luas dan ketika dipenuhi dengan 9 orang dewasa dan 5 anak menjadi sempit dan super crowded. Aruna, keponakan saya yang berusia dua tahun terlihat lucu dalam dress a la Cinderellanya, namun ogah diminta duduk tenang disebuah kursi tinggi hingga harus dipegang kuat-kuat. Alhasil bocah manis yang biasanya ceria tersebut mengamuk dan menghentakkan badannya meminta turun dari kursi. Setelah menjalani beberapa sesi foto saya baru menyadari betapa melelahkannya pekerjaan ini dan betapa pegalnya bibir saya harus tersenyum terus menerus di depan kamera. Siapa bilang pekerjaan menjadi model itu gampang? Bahkan walau hanya untuk model abal-abal seperti ini. Kondisi tersebut diperparah dengan sandal yang saya pergunakan copot satu persatu talinya saking lamanya disimpan didalam kotak, meninggalkan kaki saya tanpa alas kaki sama sekali! Untung baju panjang yang dipakai mampu menutupi jari-jari kaki telanjang dibaliknya. Kepala saya semakin pening membayangkan betapa mahalnya harus membeli sandal di mall seperti Pondok Indah.

Menjelang siang bocah-bocah mulai bosan dan bad mood, senyum mereka semakin jarang dan bahkan berakhir dengan muka bete dan mulut cemberut. Tidak mengherankan karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu, melewati waktu makan siang mereka. Tedy, adik saya, lantas membeli minuman kotak dan snack di sebuah bakery di depan studio yang disambut dengan gembira oleh peserta foto. Saking hausnya, Aruna bahkan enggan melepaskan sekotak jus Buavita yang dipegangnya, menjerit ketika jus tersebut diambil paksa. Foto studio keluarga pertama tersebut berakhir dengan si kecil tetap memegang kotak Buavita. Tobat!

Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit

Sayangnya foto-foto tersebut tidak bisa dicetak saat itu juga, membutuhkan waktu 1 bulan untuk kami bisa mendapatkan softcopy-nya. Pihak studio hanya memberikan kesempatan kami memilih foto terbaik mana yang akan dicetak dan diambil. Kakak saya, Wulan, bertugas untuk memilih foto-foto tersebut, sementara peserta lainnya menyebar berjalan-jalan ke seantero mall. Saya, Ibu dan Wiwin, memilih pulang karena sandal yang saya kenakan sama sekali tidak bisa dipakai, tapi untungnya Tedy memiliki persediaan sandal di mobil. Ukurannya yang 47 tampak seperti perahu di kaki saya, tapi hey itu lebih baik dibandingkan saya harus membeli sandal baru di mall. Wokeh sekarang bagaimana dengan hasil fotonya? Karena tidak bisa mendapatkan softcopy foto saat itu juga, maka kakak saya lantas memotret gambar beberapa foto terpilih yang terlihat di monitor komputer studio menggunakan handphone dan mengirimkannya ke grup WA keluarga. 

Hasilnya? Mengecewakan! Baju kaftan hitam yang ide awalnya terdengar gemilang karena dianggap bisa memberikan siluet slim justru tampak mengerikan. Di dalam foto, si fotografer mengatur saya dan adik saya, Wiwin, duduk dikanan kiri Ibu yang terlihat cantik dan segar dalam balutan kaftan ungu, sementara kakak saya berdiri dibagian belakang. Tubuh kami yang besar terlihat semakin jumbo berbalut kain hitam yang lebar, mengingatkan saya pada arca raksasa hitam di candi Borobudur, hanya kurang sebuah gada batu hitam saja ditangan. Berdua mengapit Ibu di tengah, kami seakan-akan seperti dua raksasa pengawal yang sedang mengapit Dewi Saraswati menuju ke kahyangan. Gubrak! 

“Ide kita tidak berhasil, kaftan hitam itu jelek banget buat foto,” keluh saya, setelah kami berdiskusi hingga berbusa-busa dan terpingkal-pingkal membahas foto-foto ‘gagal’ tersebut. “Tapi cewek-cewek Arab itu bagus banget pakai kaftan hitam,” cetus adik saya Wiwin. “Ya mereka kan langsing dan tinggi, kalau kita kan pendek dan lebar,” balas saya sambil melihat-lihat model yang memakai kaftan berwarna hitam di internet. “Coba kamu cari gambar ‘fat Arab women in black kaftan’ di internet, mereka banyak yang gendut-gendut juga kok,” kata adik saya, masih belum bisa menerima kenyataan. Saya mendelik mendengar sarannya, “Mengapa repot-repot? Buka saja WA group keluarga, disana banyak foto-foto fat women in black kaftan.” Dan kami terpingkal-pingkal sekencang-kencangnya hingga sakit perut di pukul dua belas malam itu. 


Begitulah akhir kisah foto studio keluarga saya, dan berikut ini resep pasta tuna yang super duper mudah ya. 😂😃

Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit

Pasta Tuna dalam 20 Menit
Resep hasil modifikasi sendiri

Bahan dan bumbu:

– 500 gram pasta kering, saya pakai pasta keong, bisa menggunakan pasta jenis lainnya

– 2 kaleng tuna dalam air/minyak, berat masing-masing 185 gram
– 1 buah bawang bombay ukuran besar, cincang kasar

– 5 siung bawang putih, cincang halus

– 4 buah cabai merah besar iris tipis

– 1 sendok makan saus tiram
– 2 sendok teh mixed herbs atau Italian seasonings, atau rempah-rempah kering seperti basil, oregano, thyme dan rosemarry. 

– 2 sendok teh garam

– 1 1/2 sendok teh merica bubuk
– 4 batang daun peterseli, cincang kasar

Cara membuat:

Resep Pasta Tuna Dalam 20 Menit

Siapkan pasta, saya menggunakan pasta jenis keong, bisa menggunakan jenis pasta lain seperti makaroni, penne, atau fusili. Rebus pasta didalam air mendidih yang agak banyak + 1/2 sendok makan garam hingga matang al dente. Angkat dan tiriskan, sisihkan.  Sisihkan juga sekitar 1 gelas  air rebusan pasta untuk membasahi pasta ketika ditumis dengan bumbu.

Siapkan tuna kalengan, saya menggunakan tuna dalam air, bisa juga menggunakan tuna dalam minyak. Tiriskan tuna, buang airnya. Sisihkan.

Siapkan wajan, beri 2 sendok makan minyak dan panaskan. Tumis bawang bombay hingga layu dan transparan, tambahkan bawang putih dan cabai merah iris, tumis hingga kedua bawang matang dan berubah warnanya agak gelap. Masukkan saus tiram, aduk dan tumis selama 5 detik. Masukkan tuna, aduk dan sedikit hancurkan tuna dengan spatula hingga tercerai berai. 


Tuangkan pasta rebus, aduk hingga rata. Masukkan mixed herbs, garam dan merica, aduk rata. Tambahkan sekitar 100 ml air rebusan pasta, aduk rata. Masukkan daun peterseli cincang, aduk rata. Cicipi  rasanya, sesuaikan garamnya. Jika tumisan pasta terlalu kering tambahkan air rebusan pasta sedikit-sedikit hingga agak lembab. Matikan kompor dan sajikan pasta tuna dengan taburan keju parmessan diatasnya. Yummy!

Pasta tahan hingga 5 hari lamanya di dalam wadah tertutup di chiller kulkas. 



[ad_2]
Source link

قالب وردپرس

Tanya & Komentar

Artikel     dalam, Foto, Keluarga, Kisah, Menit, Pasta, Resep, Studio, Tuna